
Letak
dan Geografi
Asahan merupakan salah satu Kabupaten yang berada
di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis Kabupaten Asahan berada
pada 2003’00”- 3026’00" Lintang Utara, 99001-100000 Bujur Timur dengan
ketinggian 0 – 1.000 m di atas permukaan laut.
Kabupaten Asahan menempati area seluas 371.945 Ha
yang terdiri dari 13 Kecamatan, 176 Desa/Kelurahan Definitif. Wilayah Kabupaten
Asahan di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Batu Bara, di sebelah
Selatan dengan Kabupaten Labuhan Batu dan Toba Samosir, di sebelah Barat
berbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan di sebelah Timur berbatasan dengan
Selat Malaka.
Iklim
Seperti umumnya daerah-daerah lainnya yang berada
di kawasan Sumatera Utara, Kabupaten Asahan termasuk daerah yang beriklim tropis
dan memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau dan
musim hujan biasanya ditandai dengan sedikit banyaknya hari hujan dan volume
curah hujan pada bulan terjadinya musim.
Menurut catatan Stasiun Klimatologi PTPN III
Kebun Sei Dadap, pada tahun 2007 terdapat 132 hari hujan dengan volume curah
hujan sebanyak 2.150 mm. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan September yaitu
342 mm dengan hari hujan sebanyak 12 hari. Sedangkan curah hujan paling kecil
terjadi
pada bulan Maret sebesar 8 mm dengan hari 3 hari.
Rata-rata curah hujan tahun 2007 mencapai 179,17 mm/bulan.
Dataran
Wilayah pesisir Asahan pada umumnya datar dengan
kemiringan lereng 0 – 3%. Pada daerah berbukit di sebelah Barat Daya, umumnya
merupakan wilayah bergelombang dengan kemiringan 3 – 8 %. Dataran pesisir Asahan
merupakan dataran rendah dengan elevasi 0 – 200 m. Pesisir pantai terdapat di
Timur Laut, sementara wilayah Barat Daya merupakan tempat titik-titik
tertingginya, sehingga wilayah tersebut melereng dari Barat Daya ke Timur Laut.
Pada wilayah Kecamatan Bandar Pasir Mandoge
terdapat Dk. Haboko yang merupakan pegunungan memanjang dari Selatan ke Utara
yang memiliki lereng terjal, sementara di sebelah Barat Daya juga terdapat
kelurusan gunung dengan arah yang sama dengan tebing terjal juga (wilayah pada
Kecamatan Bandar Pasir Mandoge yang bukan merupakan pesisir Asahan). Sementara
diantara pegunungan dan Dk. Haboko merupakan wilayah dataran. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa daerah tersebut mempunyai struktur lipatan dengan
lapisan-lapisan batuan keras dan lunak.
Wilayah pesisir Asahan merupakan dataran yang
sering mengalami banjir, baik yang disebabkan arus sungai maupun laut. Hal
tersebut membentuk beberapa jenis dataran, antara lain: dataran pantai, dataran
banjir, dataran rawa, dataran tanah bencah dan delta. Banjir yang sering terjadi
juga menyebabkan suburnya wilayah ini karena endapan aluvial yang terbawa banjir
ke dataran. Karena itu banyak wilayah yang dimanfaatkan sebagai daerah
perkebunan besar di kawasan ini.
Dataran pantai merupakan dataran yang dibentuk
oleh wilayah laut yang muncul ke darat. Dataran ini membentuk pantai yang landai
yang makin lama makin meninggi. Sebagian pantai merupakan rawa dan tanah bencah,
karena sering terjadi pasang di wilayah tersebut yang menyebabkan tanah berair
dan membentuk rawa. Dataran rawa juga terbentuk di muara-muara sungai, di daerah
pertemuan sungai dan penyempitan sungai.
Perbukitan
Perbukitan di wilayah pesisir Asahan tidak banyak dijumpai. Daerah berbukit
terdapat di bagian Barat Daya, yaitu Kecamatan Bandar Pasir Mandoge dan
Kecamatan Bandar Pulau. Ketinggiannya hanya mencapai ± 200 m. Bukit tersebut
memiliki lereng yang landai, kecuali Dk. Haboko yang merupakan bukit memanjang
dan memiliki lereng yang terjal dengan kemiringan 30 – 50%. Secara umum
bukit-bukit tidak memperlihatkan pola yang teratur, karena merupakan bukit-bukit
tua yang sudah dikikis arus sungai. Kikisan arus sungai tersebut membentuk
bukit-bukit kecil berlereng landai yang tidak berpola.
Sungai
Wilayah pesisir Asahan merupakan pesisir di laut
pedalaman, berbatasan dengan Selat Malaka. Arus laut mengalir di sepanjang
pantai dari Utara ke Selatan atau sebaliknya, bukan merupakan arus yang tegak
lurus pantai. Karena itu, daya kikis yang dimiliki air laut tidak begitu kuat.
Sementara bentuk dataran yang sangat landai dan sungai-sungai tua yang lebar
menunjukkan bahwa wilayah Asahan sangat dipengaruhi oleh pengikisan dan
pengendapan aliran sungai dibanding arus laut.
Pada umumnya sungai yang terdapat di wilayah
pesisir Asahan mempunyai pola dendritik. Hal ini disebabkan oleh bentuk
wilayahnya yang melereng dari arah Barat Daya ke Timur Laut. Sungai-sungai muda
terdapat di bagian Barat Laut yang mengalir seperti cabang-cabang pohon ke induk
sungainya. Induk-induk sungai tersebut mengalami proses pengikisan dan
pengendapan dan beralih menjadi sungai dewasa dan tua di sebelah Timur Laut.
Hampir semua induk-induk sungai tersebut mengalir ke Sungai Asahan yang
merupakan sungai tua di bagian Timur Laut.
Sungai Asahan merupakan sungai terbesar di
wilayah pesisir Asahan. Sungai ini memiliki meanders besar, banyak endapan di
tengah sungai, hampir tanpa kecepatan, gradien kecil, dan lembah sungai yang
lebar, yaitu sampai ± 1 km di daerah muaranya. Sungai ini sering mengakibatkan
banjir karena mengalir di daerah datar dan memiliki banyak pertemuan dengan
sungai dewasa dan sungai tua lain yang mengalir sebagai anak sungainya, sehingga
membentuk delta sungai yang merupakan dataran banjir dan rawa di wilayah
pertemuan sungai tersebut dengan laut.